Aku dan Sang Pelangi

Aku dan Sang Pelangi

J-Town, 20 Januari 2008,

Cerita ini adalah kisah yang pernah kujalani bersamanya, seseorang yang telah menyentuh hidupku dengan caranya dan membuat hidupku yang tadinya hitam-putih menjadi berwarna. Seindah cahaya pelangi yang muncul seusai hujan. Kenangan itu takkan pernah hilang dari ingatanku walau semuanya kini telah berakhir.

Kini, biarlah diriku melangkah pergi dari semua kenangan itu tanpa pernah sekalipun kembali menoleh ke belakang dan memikirkan sebuah kata yang bernama “penyesalan”.

Untuk pelangiku, terima kasih sudah hadir dan mewarnai hidupku walau hanya sejenak. Terimakasih telah mengucapkan kata-kata yang paling ingin kudengar di dalam hidupku. Diriku yang sekarang takkan pernah ada tanpa kehadiranmu di dalam hidupku….

 

~From C to C ♥~


~**********~

“Maafkan aku, Coln.” Chika menundukkan kepalanya, tak sanggup menatap kearah mata itu lagi. Mata yang selalu membuatnya merasa sanggup untuk melakukan apapun di dunia ini hanya dengan menatapnya. Mata yang tadi dilihatnya sekilas memancarkan sinar penuh pengharapan.

“Kenapa, Ka?” Tanpa perlu melihat pun Chika tahu betul kalau pria itu tengah kebingungan.

“Karena ga pernah ada apa-apa diantara kita.” Chika tersenyum pahit kemudian menghembuskan napasnya keras-keras, masih belum berani memindahkan tatapan matanya dari lantai yang dipenuhi dengan dedaunan kering dan beberapa sampah plastik. “Ga pernah ada apa-apa.”

Ia sengaja menekankan kata-katanya barusan seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri akan hal itu.

“Tapi

“Aku mau balik sekarang kalau kamu ga keberatan.”

Sebuah suara berteriak di dalam benak Chika saat laki-laki itu dengan langkah gontai mengajaknya ke arah motornya yang terparkir di sudut taman itu. Suara yang meneriakkan perintahnya untuk meraih laki-laki yang sangat disayanginya itu.

“Oke,” bisik Lincoln pelan seolah mengakui kekalahannya.

“Aku anterin kamu balik sekarang.”

“Ka

“Maafkan aku, Coln.” Kali ini ia berani menatap ke arah mata yang penuh dengan kesedihan dan kekecewaan itu.

Maafkan aku karena membohongi perasaanku sendiri.

“Kita sahabatan aja ya?” tanya Chika sambil mencoba keras untuk tersenyum, namun gagal total.

Lincoln tidak mengucapkan sepatah katapun, melainkan hanya menghembuskan napasnya keras-keras seolah berusaha keras menerima kekalahannya yang mungkin dikarenakan oleh kesalahan yang dibuatnya sendiri.

Chika tahu kata-kata itu melukai hati laki-laki itu dan juga hatinya sendiri, namun ia harus mengucapkannya karena ia telah memutuskan.

Angin malam terasa menusuk malam itu, membuat suasana diantara mereka bertambah dingin dan tidak mengenakkan.


~**********~

 

Preluede

Akirnya semuanya berakhir juga…

Sungguhkah kita dapat mengakhiri sesuatu yang bahkan belum dimulai?


Chika mengamati ornamen-ornamen yang dipasang di tiap sudut ruangan itu. ornamen yang menunjukkan kalau sebuah acara tengah berlangsung di dalam ruangan besar itu. Ia tersenyum puas karena akhirnya ia bisa menjalankan tugasnya lagi bersama teman-temannya setelah sekian lama ia memilih untuk menjaga jarak dengan mereka semua, atau lebih tepatnya menghindari seorang laki-laki yang rupanya tengah duduk sendirian di tengah kerumunan orang yang tengah melakukan berbagai aktivitas itu.

Sebuah suara yang menyuruhnya untuk menghampiri laki-laki yang tampaknya sangat-sangat kesepian itu berbisik lembut di pikirannya, membuatnya berdiri dari tempatnya duduk. Ia pun secara perlahan berpindah kemudian duduk tepat di belakang laki-laki itu. Ia tersenyum saat laki-laki itu menoleh seolah menyadari kedatangannya kemudian bertanya dengan ramah, “Kok sendirian aja?”

“Iya, nih,” ujar laki-laki-itu sambil tersenyum lagi. “Ga ada yang mau temenin gue.”

“Abisnya lo jadi galak sih,” ujar Chika dengan nadanya yang kekanak-kanakan. “Kok bisa lo jadi galak?”

“Emang siapa yang bilang kalo gue galak?” Tanya laki-laki itu sambil mengerutkan dahinya.

“Banyak tuh,” ujar Chika lagi. “Gue sampe ga percaya gitu, abisnya lo ga pernah galak ma gue sih.”

Laki-laki itu tersenyum saat melihat senyuman lebar Chika kemudian berkata satu kata khas yang ternyata masih dirindukan oleh Chika. “Dasar.”

Dan seperti biasanya, Chika pun mengajaknya berbincang tanpa topik yang jelas hingga akhirnya matanya menangkap sesosok perempuan yang sudah lama dicarinya dalam beberapa jam belakangan ini. Seorang perempuan yang suka menghilang di tengah kerumunan. Seorang perempuan yang membuatnya akirnya bisa berbicara panjang lebar lagi dengan seseorang yang telah diusir pergi dari hatinya, atau setidaknya begitu menurut pendapatnya. Seorang laki-laki yang telah diubah statusnya dari seseorang yang disayangi menjadi seorang sahabat baiknya.

Ia pun berlari mengejar perempuan itu, takut dia akan menghilang lagi tanpa menoleh ke belakang atau berpamitan terlebih dahulu dengan laki-laki yang tampaknya mengamatinya dari belakang dengan tatapan mata itu. Tatapan mata yang selalu dapat membuat Chika berulang kali jatuh cinta padanya. Tatapan mata lembut yang selalu membuatnya merasa bisa melakukan segalanya.

“Grace!!!” Ia berseru agak keras kemudian menghembuskan napas lega saat akirnya perempuan itu bisa diraihnya.

“Kemana aja, Ka?” Tanya Grace sambil tersenyum.

“Harusnya gue yang tanya kaya gitu tau??” Chika bertanya dengan nada kesal. “Gile lo ye..”

“Maap lah,” ujar Grace sambil tertawa karena melihat Chika yang tampaknya sangat-sangat kesal itu. “Gue tadi Cuma ngelilingin ni tempat doang.”

“Lagian,” ujar Grace lagi.

“Lagian apaan?” tanya Chika bingung.

“Lagian gue liat kalian bedua tadi lagi asyik banget sih, jadi ga enak ganggu.” Grace tertawa.

“Heh?!?” tanya Chika kebingungan. “Ganggu apaan?”

“Ya ganggu lo ma dia,” ujar Grace kemudian berjalan pergi sambil tertawa.

“Dia yang mana?” tanya Chika masih belum bisa menangkap maksud temannya itu.

“Waduh,” ujar Grace. “Ga usa pura-pura kali.”

~**********~

Sudah empat bulan, pikirnya sambil melangkahkan kakinya menuju eskalator naik di dalam ruangan itu. Empat bulan yang efektif karena akirnya ia bisa mengusir pergi rasa yang tidak mungkin diraihnya itu. Rasa yang mungkin akan selalu abadi di dalam hatinya, namun tidak mungkin ditunjukkannya lagi karena ia telah memilih untuk menjadikan laki-laki itu sebagai sahabatnya.

Lincoln.

Ya, Lincoln adalah sahabat terbaiknya. Dulu, sekarang, dan nanti.

Ia pun mengembuskan napas lega saat mengetahui karena rasa sayangnya pada laki-laki itu telah bisa disimpan rapat-rapat jauh di dalam lubuk hatinya dan diubahnya menjadi rasa sayang sebagai seorang sahabat.

“Woi, Ka.” Seruan Grace menyadarkannya dari lamunannya dan ia terkejut karena ternyata ia telah sampai di lantai atas yang ditujunya tanpa sadar sedikitpun.

Ia pun melangkahkan kakinya bersamaan dengan temannya itu sambil tersenyum. Kali ini ia benar-benar bahagia dengan hidupnya yang hingga detik ini belum bersentuhan lagi dengan yang namanya cinta setelah patah hatinya pada Lincoln beberapa waktu yang lalu.

Meski demikian, ia tetap saja merasa ada sesuatu yang berubah dari diri Lincoln, terutama saat ia langsung merasakannya kali ini. Lincoln yang sekarang jauh lebih pendiam dan dingin dari Lincoln yang dulu, Lincoln yang selalu memiliki Chika yang dengan sukarela berada di sisinya. Dan sejujurnya ia tidak begitu menyukai hal itu.

Banyak sekali kenangan yang telah hadir diantara mereka berdua. Kenangan-kenangan yang membuatnya tersenyum dan menangis saat mengingat kembali semuanya. Termasuk kenangan saat akirnya ia menolak pernyataan cinta Lincoln padanya karena ia telah memutuskan untuk menjadikan laki-laki itu sebagai sahabatnya. Hal yang dianggap aneh oleh seluruh sahabat-sahabatnya yang kebetulan tahu betul mengenai awal mula kisah mereka berdua.

Ia sudah memikirkannya baik-baik dan menurutnya Lincoln jauh lebih berharga untuk dijadikan seorang sahabat daripada dijadikan sebagai seorang kekasih karena sejujurnya ia benar-benar takut harus kehilangan laki-laki itu untuk selamanya. Ia masih ingat betul bagaimana akirnya ia bermusuhan, saling antipati dengan mantan-mantan kekasihnya dahulu dan sejujurnya ia sungguh-sungguh tidak mau hal itu sampai terjadi pada mereka berdua. Ia tidak mau kehilangan Lincoln seutuhnya walau ia juga tidak bisa meraihnya. Belum lagi ditambah alasan ia tidak terlalu yakin dengan perasaan Lincoln padanya.

~**********~

Lagu Mars itu menggema di seluruh ruangan. Menandakan acara yang telah digelar selama satu minggu penuh itu telah berakhir. Berjuta perasaan memenuhi puluhan orang-orang berseragam yang membanjiri ruangan itu. Teriakan kepuasan, senyuman, kegembiraan memenuhi ruangan yang sudah hampir sepi pengunjung itu dan sejujurnya Chika merasa sedikit terkejut betapa mereka semua yang hadir disana bisa membuat ruangan yang boleh dikatakan sepi itu menjadi sedikit lebih ramai karena acara penutupan yang bisa dikatakan lumayan heboh itu.

Berjuta perasaan juga menghinggapi mereka saat mereka saling mengucapkan terimakasih pada 1 sama lain dan saling bersalaman dengan gaya masing-masing. Chika yakin sama halnya dengan dirinya, mereka semua yang hadir disitu saat ini akan selalu menjadikan hari ini sebagai kenangan yang takkan pernah hilang oleh waktu.

Tak terasa kini sudah lebih satu tahun lamanya ia bergabung di dalam organisasi itu dan terlibat berbagai kepanitiaan yang terus menerus mempertemukannya dengan Lincoln seolah mereka memang sengaja melakukannya.

Ia pun mengedarkan pandangannya berkeliling dan terkejut saat mendapati kalau ternyata Lincoln tidak ikut serta di dalam keramaian itu. Seperti biasanya, pikirnya. Dahulu, selalu ia yang menariknya untuk ikut serta ke dalam segala keramaian namun kini ia memilih untuk tidak melakukannya.

Terlalu banyak kenangan yang pernah hadir di dalam hidupnya dan ia tak bisa membendung semuanya itu. Ia pun menepis semuanya itu kemudian menghembuskan napasnya keras-keras sambil memalingkan wajahnya dari Lincoln yang bergabung ditengah-tengah mereka setelah dipanggil berulang kali.

“Akirnya selesai juga.” Chika tersentak sejenak kemudian menanggapi seruan Grace, temannya.

“Ya,” ujarnya pelan. “Akirnya selesai juga.”

Ia pun menyambut uluran tangan Grace dan memeluk temannya itu dengan erat kemudia mereka berteriak bersama-sama dengan yang lainnya. Meneriakkan kegembiaraan dan kepuasan mereka karena akirnya mereka bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.

“Sekali lagi terimakasih banyak buat kalian semuanya,” ujar Ben, ketua event kali ini. “Kalian memang yang the best.”

~**********~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


%d bloggers like this: